Yan Warinussy Kritik Etika Komunikasi Kapolres Pegaf

banner 120x600
banner 468x60

MANOKWARI — Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy, S.H., menyayangkan cara komunikasi Kapolres Pegunungan Arfak (Pegaf) AKBP Dr. Bernadus Okoka, S.E., S.H., M.H., melalui pesan WhatsApp yang ditujukan kepadanya.

Warinussy menilai penggunaan marga “Warinussy” tanpa menyebut nama depannya dalam komunikasi tersebut tidak tepat dan dinilai kurang menghargai etika komunikasi, khususnya dalam konteks adat masyarakat Papua.

“Saya mau sampaikan chat dari Kapolres Pegaf. Menurut saya tidak etis. Bukan karena dia tidak sopan dan tidak punya etika dalam berkomunikasi, tetapi tiba-tiba dia mengirim chat kepada saya dengan menyebut nama marga saya,” ujar Warinussy kepada wartawan. Selasa, (18/8/2026).

Menurutnya, dalam adat istiadat orang Papua, seseorang semestinya dipanggil dengan cara yang tepat dan penuh penghormatan. Ia mencontohkan, komunikasi dapat dilakukan dengan sapaan yang lebih santun sebelum menyampaikan maksud atau pertanyaan.

“Orang Papua, siapa pun, tidak tepat hanya disebut dengan nama marga. Misalnya, bisa saja mengatakan, ‘Selamat malam, Pak Warinussy. Mohon maaf, bisakah saya bertanya kenapa ada rencana aksi yang dilakukan keluarga korban?’ Itu kan bisa lebih etis,” katanya.

Warinussy menegaskan bahwa persoalan yang hendak dikomunikasikan Kapolres Pegaf sebenarnya telah pernah dibicarakan bersama dalam pertemuan yang melibatkan Kapolda Papua Barat pada pekan sebelumnya.

Ia juga mengaku telah menyampaikan persoalan komunikasi tersebut kepada Kapolda Papua Barat.

Menurutnya, percakapan WhatsApp dan pesan suara yang berkaitan dengan persoalan tersebut dapat menjadi bagian dari penjelasan mengenai bagaimana komunikasi antara aparat penegak hukum dan masyarakat semestinya dilakukan.

“Saya sudah sampaikan kepada Kapolda. Saya minta ini dipublikasikan supaya orang tahu tentang cara berkomunikasi yang benar dan cara berkomunikasi yang tidak etis dari seorang perwira,” tegasnya.

Meski menyampaikan kritik keras, Warinussy menegaskan dirinya tetap menghormati Kapolres Pegaf sebagai sesama warga negara dan aparat penegak hukum.

“Pak Kapolres, saya menghormati Bapak. Jadi, kalau Bapak panggil saya dengan nama, jangan hanya sebut marga saya. Menurut adat orang Papua, saya orang Serui, lahir dan besar di Biak, dan istri saya orang Biak. Cara seperti itu menurut saya tidak sopan,” ujarnya.

Warinussy berharap ke depan komunikasi antara aparat kepolisian, masyarakat, keluarga korban maupun pendamping hukum dapat dilakukan dengan mengedepankan etika, kesantunan dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat setempat.

“Saya tidak akan menanggapi pertanyaan Bapak kalau Bapak tidak sopan. Punya etika sedikit, ya, Pak Kapolres. Saya teruskan WA Bapak yang menurut saya tidak etis ini kepada Kapolda,” pungkasnya.

Kapolres Pegunungan Arfak (Pegaf) AKBP Dr. Bernadus Okoka, S.E., S.H., M.H., ketika dikonfirmasi oleh media ini, belum memberikan tanggapan. (*)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90