MAYBRAT — Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy, SH, mendesak Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto segera mengevaluasi dan mengubah model pendekatan keamanan yang diterapkan di Tanah Papua, khususnya kawasan Vogelkop atau Kepala Burung Cenderawasih.
Warinussy menilai pendekatan keamanan yang menempatkan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) di garis depan dalam menghadapi masyarakat sipil Papua memiliki risiko tinggi terhadap munculnya kekerasan dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Sorotan itu mencuat setelah insiden penembakan yang dilaporkan terjadi pada Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 18.00 WIT di wilayah Sungai Aifan/Kamundan, Distrik Aifat Timur Tengah, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya.
Menurut informasi yang diterima LP3BH Manokwari dari kontak person di Kumurkek, tiga warga sipil menjadi korban tembakan senjata api yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI.
Ketiga korban saat ini dilaporkan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pratama Sunere, Kumurkek.
‘Model pendekatan keamanan dengan menaruh aparat TNI di garda terdepan menghadapi rakyat sipil asli Papua senantiasa berisiko dan rentan terhadap kekerasan yang berpotensi kuat menjadi kasus dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan,” tegas Warinussy.
Ia mendesak aparat terkait segera memastikan kondisi para korban dan melakukan visum et repertum terhadap ketiga korban luka. Menurutnya, pemeriksaan medis tersebut penting untuk kepentingan pembuktian hukum, perlindungan korban, serta pengungkapan fakta secara objektif.
LP3BH juga meminta para aktivis HAM dan kemanusiaan ikut mengawal penanganan kasus tersebut agar hak-hak korban tidak terabaikan.
“Dalam kasus seperti ini, pemeriksaan medis terhadap tubuh korban harus dilakukan secara serius dan transparan. Bukti medis sangat penting untuk memastikan fakta hukum dan memberikan jalan bagi korban memperoleh keadilan,” ujar Warinussy.
Tiga Warga Jadi Korban
LP3BH Manokwari mencatat tiga warga yang dilaporkan terkena tembakan, yakni:
Silvester Assem (22) mengalami luka tembak pada bagian paha hingga peluru menembus.
Mama Ani Fatie (40) mengalami luka tembak pada bagian telinga dan bahu.
Mama Selviana Sori (60) mengalami luka tembak pada bagian betis kaki.
Warinussy juga mendesak Komnas HAM RI segera turun tangan melakukan investigasi terhadap peristiwa di wilayah Kali Kamundan tersebut.
Menurutnya, investigasi independen diperlukan untuk mengungkap kronologi, memastikan pihak yang bertanggung jawab, mengetahui penggunaan kekuatan yang terjadi, serta menentukan apakah terdapat pelanggaran HAM dalam insiden tersebut.
“Dalam kapasitas selaku Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, saya mendesak Komnas HAM RI segera melakukan investigasi terhadap peristiwa Kali Kamundan yang diduga kuat mengandung unsur pelanggaran HAM,” tegasnya.
Warinussy menilai negara harus memastikan masyarakat sipil mendapatkan perlindungan maksimal dalam setiap operasi keamanan.
Ia juga meminta pemerintah tidak membiarkan pendekatan keamanan justru memperbesar ketegangan dan menciptakan korban baru di tengah masyarakat.
LP3BH Manokwari, kata Warinussy, akan terus memantau perkembangan kasus tersebut dan mendorong seluruh pihak mengedepankan hukum, penghormatan HAM, serta perlindungan terhadap masyarakat sipil.

















