Merauke – Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, memberikan tanggapan terkait film “Pesta Babi” dengan menegaskan bahwa ritual tersebut memiliki makna filosofis dan budaya yang mendalam bagi masyarakat Papua.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami setiap unsur budaya yang ditampilkan dalam film tersebut secara arif dan bijaksana agar tidak menimbulkan penilaian yang keliru terhadap tradisi adat Papua.
Apolo Safanpo menjelaskan bahwa ritual pesta babi merupakan bagian dari tradisi yang hidup di berbagai etnis di Papua Selatan, seperti Asmat, Mappi, Boven Digoel, dan Merauke.
“Meski tata cara pelaksanaannya terlihat serupa, setiap daerah memiliki makna dan filosofi yang berbeda sesuai konteks budaya masing-masing,” ujarnya. (19/05/2026).
Ia juga menekankan bahwa ritual tersebut mengandung pesan moral yang kuat, termasuk nilai kebersamaan, penghormatan terhadap adat, serta hubungan erat antara manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya.
Terkait isu pelarangan film “Pesta Babi”, Gubernur Papua Selatan merujuk pada pernyataan resmi Menteri Hukum dan HAM yang menyebut bahwa pelarangan pemutaran film hanya dapat dilakukan melalui putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Menurut Apolo Safanpo, film tersebut lebih ditujukan kepada masyarakat di luar Papua yang belum pernah menyaksikan secara langsung upacara adat masyarakat Papua.
“Film ini menjadi media untuk memperkenalkan budaya Papua sekaligus menyampaikan pesan moral dan nilai adat kepada masyarakat luas, karena masyarakat Papua sendiri sudah sangat akrab dengan tradisi tersebut,” ujarnya. (*)





