Mengasah Ide Menjadi Visual: Komunitas Rumah Kata Gelar diskusi Publik Soroti Skenario Film Dokumenter di Sorong

banner 120x600
banner 468x60

SORONG- Ruang diskusi dan wadah belajar pembuatan film dokumenter terbilang masih cukup langka di Kota Sorong.
Menjawab kebutuhan tersebut, komunitas Rumah Kata Sorong  melalui rangkaian kegiatan Festival Sastra 2026 menggelar kelas pelatihan dan diskusi pembuatan film dokumenter yang diikuti belasan peserta dari berbagai latar belakang.  

Kegiatan ini menghadirkan Filmaker Leonardy Markho, yang membagikan pengalaman serta membimbing para peserta, mulai dari tahap penggalian ide, penuangan gagasan ke dalam bentuk tulisan, hingga proses produksi visual.  

Diskusi tersebut digelar di perpustakaan rumah Kata Sorong kota Sorong km 12 Papua Barat Daya,  Minggu (26/9/2026).

Leonardy Markho, Narasumber sekaligus praktisi film yang terlibat mengungkapkan rasa antusiasnya terhadap ruang diskusi ini. Menurutnya, film dokumenter menjadi salah satu medium yang sangat potensial untuk menyampaikan pesan dan gagasan yang mendalam.  

“Sebenarnya kita membentuk cerita bagaimana mulai membuat film dokumenter. Di Sorong sendiri tidak banyak kegiatan seperti ini. Memang dokumenter adalah pilihan saya sebagai praktisi. Mendapatkan ada komunitas literasi yang berkumpul dan berbicara bagaimana menuangkan ide dari tulisan ke visual video itu hal yang luar biasa,” ujar narasumber saat diwawancarai.   

Ia menjelaskan bahwa film dokumenter memiliki kekuatan besar karena mampu memadukan ide pikiran, audio, dan visual secara utuh. Kombinasi ini diharapkan tidak sekadar memberikan tontonan, tetapi juga memicu pergerakan dan diskusi publik terkait isu-isu yang diangkat.  

Lebih lanjut katanya, Meskipun film dokumenter bukan merupakan genre yang populer secara komersial di masyarakat luas, perannya dinilai sangat vital dalam membawa dampak positif, khususnya bagi pemikiran anak-anak muda. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan ini diharapkan tidak berhenti begitu saja sebagai kelas formal belaka.

Ia berharap ada pendampingan dan proses berkelanjutan bagi para peserta agar ide yang telah dirancang dapat dieksekusi hingga menjadi karya film yang utuh.  

“Saya harap ada kelanjutan dan progress dari mengembangkan ide, melakukan riset, sampai film itu benar-benar bungkus atau selesai. Hari ini kita baru membuka dan mengasah ide yang sudah ada menuju proses produksi. Harapannya semakin banyak ruang-ruang seperti ini,” tambahnya.   

Kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh komunitas Rumah Kata Sorong ini diikuti oleh sekitar 12 hingga 13 peserta.

Para peserta datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari pelajar SMA, mahasiswa  dari berbagai jurusan, hingga akademisi dan Dosen.

Ruang-ruang kreatif seperti ini diharapkan terus bertumbuh guna melahirkan kreator-kreator muda yang kritis dan produktif di Tanah Papua.  

Sementara itu, Armitha kordinator acara festival sastra sorong menyampaikan bahwa, Komunitas Rumah Kata Sorong kembali menggelar Festival Sastra Sorong 2026 sebagai wadah mempertemukan masyarakat dengan dunia literasi dan seni pertunjukan.

Gelaran tahunan ini lahir dari keresahan mendalam para pegiat komunitas akan minimnya ruang belajar yang inklusif dan terbuka bagi warga Kota maupun Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Koordinator Acara Festival Sastra Sorong 2026 sekaligus perwakilan dari Rumah Kata Sorong, Armitha, mengungkapkan bahwa festival ini dirancang untuk menjawab tingginya minat belajar masyarakat yang selama ini terhambat oleh terbatasnya fasilitas atau ruang diskusi.

“Rumah Kata Sorong sendiri memosisikan diri bukan sekadar sebagai perpustakaan, melainkan sebuah ruang belajar seluas-luasnya yang konsisten didorong dari tahun ke tahun,” Ujarnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, pihaknya  merencanakan sepuluh kelas publik, dengan delapan kelas di antaranya telah sukses dilaksanakan.  Berbeda dari tahun-tahun awal berdiri pada 2023 dan 2024 yang hanya diikuti sekitar 50 peserta, partisipasi masyarakat melonjak drastis hingga mencapai 250 peserta pada tahun 2025 lalu. Peningkatan signifikan ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pemuda, mahasiswa, pekerja, hingga ibu rumah tangga.  

Koordinator Acara Festival Sastra Sorong menjelaskan bahwa, Untuk edisi 2026, Festival Sastra Sorong mengusung tiga fokus utama, yaitu riset penulisan, teater, dan pembuatan film. Kebutuhan akan riset penulisan diangkat karena banyaknya minat masyarakat untuk menulis yang belum diimbangi dengan pemahaman penggalian gagasan dasar.

Sementara itu, kelas teater dihadirkan untuk memberikan pembekalan seni pertunjukan sebagai media menyuarakan aspirasi. Adapun kelas film menjadi terobosan baru untuk melengkapi eksperimen karya berbasis visual.  

Melalui konsistensi penyelenggaraan festival ini, Rumah Kata Sorong berharap dapat membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Armitha, menegaskan bahwa keberadaan ruang belajar informal seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Papua Barat Daya.

Pihaknya pun berharap adanya perhatian dan dukungan nyata dari pihak pemerintah daerah agar ruang-ruang belajar serupa dapat terus tumbuh dan direplikasi di berbagai wilayah lainnya di kota Sorong Papua Barat Daya.(*) Penulis Eskop Wisabla.

banner 325x300
Penulis: Eskop Wisabla Editor: Usman Nopo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90