BIAK, PAPUA — Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Yalimo (HPMY) Kota Studi Kabupaten Biak Numfor menggelar ibadah syukur dalam rangka memperingati 61 tahun masuknya Injil di Lembah Yali, Selasa, 8 September 2026.
Peringatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa dan pelajar asal Yalimo, khususnya masyarakat Yali Apahapsili, untuk mengenang perjalanan sejarah pemberitaan Injil yang dimulai pada 8 September 1965.
Ibadah peringatan mengusung tema, “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya” (Matius 24:14).
Sementara subtema yang diangkat adalah, “Melalui terang Injil, kita bangun kesehatian guna melanjutkan misi Allah bagi keselamatan.”Ibadah berlangsung secara khidmat dan penuh rasa syukur.
Kegiatan tersebut dihimpun oleh mahasiswa dan pelajar asal Pegunungan Papua yang sedang menempuh pendidikan di Kabupaten Biak Numfor.
Penanggung Jawab Kegiatan, Oknis Faluk, mengatakan tanggal 8 September memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi masyarakat dan generasi muda Yalimo, khususnya masyarakat Yali Apahapsili dan Kampung Tangumsili.
“Hari ini, 8 September 2026, kita genap memperingati 61 tahun masuknya Injil di tanah Yali. Momen ini dirayakan secara serentak di berbagai kota studi, termasuk kami mahasiswa dan pelajar yang ada di Kota Studi Biak Numfor,” ujar Oknis Faluk usai ibadah.
Menurutnya, perayaan tersebut tidak hanya melibatkan anggota HPMY, tetapi juga mendapat dukungan dan partisipasi dari organisasi mahasiswa dan pelajar lainnya yang berasal dari wilayah Pegunungan Papua di Biak.
Di antaranya Ikatan Pelajar Mahasiswa Yahukimo (IPMY), mahasiswa dan pelajar asal Tolikara, Pegunungan Bintang, serta sejumlah mahasiswa dan pelajar dari daerah sekitar.
Pelayanan firman Tuhan dalam ibadah syukur tersebut dibawakan oleh Kakak Awerni Kabak. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sederhana, namun penuh hikmat dan kebersamaan.
Oknis menjelaskan, perjalanan pemberitaan Injil di wilayah Yali Selatan memiliki catatan sejarah penting yang dimulai pada awal September 1965.Ia menyebut, 8 September 1965 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan para misionaris dari Wamena hingga tiba di wilayah Siriki, Tangumsili.
“Tanggal 8 September ini menandakan titik awal ketika misionaris berjalan dari Wamena hingga tiba di Siriki, Tangumsili. Di tempat itulah pertama kali bertemu dengan masyarakat Suku Yali,” jelasnya.
Perjalanan pemberitaan Injil kemudian berlanjut pada 9 September menuju Jeruk dan Masahngguli, sebelum akhirnya tiba di Apahapsili pada 10 September 1965.
Menurut Oknis, tanggal 8 dan 10 September merupakan dua momentum bersejarah yang memiliki arti penting dalam perjalanan peradaban dan kehidupan masyarakat Suku Yali.
Kedua momentum tersebut, kata dia, hingga kini terus dikenang dan diperingati setiap tahun oleh masyarakat, termasuk mahasiswa dan pelajar Yali yang berada di berbagai kota studi.
“Kami adalah buah dari Injil. Momen tanggal 8 dan 10 September ini akan selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah hidup dan identitas kami sebagai generasi muda Yali,” tegas Oknis.
Ia berharap momentum peringatan 61 tahun Injil masuk di Tanah Yali tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi refleksi bagi generasi muda untuk terus menjaga persatuan, kebersamaan, serta melanjutkan nilai-nilai kasih dan pelayanan yang diwariskan melalui Injil.
Oknis juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak serta insan pers yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut
.“Terima kasih untuk kawan-kawan wartawan dan semua pihak yang sudah membantu menyiarkan kegiatan ini. Semoga Tuhan memberkati tugas dan tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.
Penulis: Eskop Wisabla

















