SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Kepulan asap pekat masih menyelimuti kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Jalan Makbon, Kelurahan Matalamagi, Distrik Sorong Utara, Kota Sorong. Di tengah sisa kebakaran yang belum sepenuhnya padam, para pemulung kembali mengais barang bekas demi menyambung hidup, meski udara yang mereka hirup berpotensi mengancam kesehatan.
Bagi para pemulung, TPA bukan sekadar tumpukan sampah. Tempat itu menjadi sandaran hidup ketika lapangan pekerjaan di Kota Sorong semakin sulit mereka jangkau. Di tengah asap yang menyesakkan, mereka menghadapi pilihan berat: bertahan mencari penghasilan atau menjauh demi menghindari risiko kesehatan.
Yulius, yang disebut bekerja di kawasan TPA Jalan Makbon dan berkaitan dengan PT Malamoi Indah (BMI), mengatakan sejumlah pemulung telah menggantungkan hidup di lokasi tersebut selama bertahun-tahun. Sebagian bahkan telah bekerja lebih dari 16 tahun, melewati pergantian sistem pengelolaan di kawasan itu.
“Tempat yang bisa memberikan mereka hidup ya cuma ini saja. Kita tahu sendiri, peluang kerja di Sorong sini kan kecil sekali,” ujar Yulius saat memberikan keterangan di lokasi, Sabtu (17/10/2026).
Kebakaran yang berlangsung dalam sepekan terakhir semakin memperberat kehidupan mereka. Meski sejumlah titik masih mengeluarkan asap dan api kecil, sebagian pemulung tetap bekerja untuk mengumpulkan barang-barang bekas yang dapat didaur ulang atau dijual. Pendapatan mereka tidak menentu karena bergantung pada jenis dan jumlah barang yang berhasil dikumpulkan setiap hari.
Risiko kesehatan pun membayangi aktivitas tersebut. Menurut keterangan di lapangan, sebagian pemulung tidak menggunakan masker karena merasa sesak napas atau tidak terbiasa mengenakannya saat bekerja. Imbauan agar warga menjauhi kawasan kebakaran juga sulit mereka patuhi karena belum memiliki sumber penghasilan alternatif yang dapat diandalkan.
Keterangan yang dihimpun di lokasi menyebutkan, pemadaman kebakaran menghadapi sejumlah kendala. Sebelum api membesar, warga sempat melihat beberapa titik api kecil di bagian bawah timbunan TPA. Namun, penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Petugas juga sempat menghadapi hambatan akses akibat pemalangan yang berkaitan dengan persoalan tertentu, sementara musim kemarau panjang membatasi ketersediaan air untuk pemadaman.
Keterbatasan pasokan air membuat proses pemadaman berjalan lambat meski armada pemadam tersedia. Api bahkan dilaporkan sempat merambat ke kawasan hutan sebelum tim pemadam berhasil mengendalikan penyebarannya. Hingga kini, penanganan lanjutan masih diperlukan untuk memastikan seluruh titik api benar-benar padam dan sumber asap tidak terus mengganggu masyarakat.
Dampak kebakaran juga dirasakan warga di sekitar Jalan Makbon. Antonis Tinon, warga Kelurahan Matalamagi, mengatakan asap pekat mengganggu pernapasan, membatasi jarak pandang pengendara, serta menghambat aktivitas masyarakat. Ia menduga asap berasal dari material yang masih membara di kawasan terbakar, termasuk sisa-sisa kayu di dalam lahan.
“Ya, kemungkinan uap dari dalam juga dan kebanyakan kebakaran. Mungkin masih ada kayu-kayu sisa yang terbakar. Makanya asap itu keluar terus,” kata Antonis. Ia menambahkan, turunnya hujan belum membuat gangguan asap benar-benar hilang. Menurut pengalamannya, kondisi justru terasa lebih parah pada malam hari ketika kabut asap semakin mengganggu jarak pandang.
Dampak terhadap pendidikan dan perekonomian warga juga menjadi perhatian. Antonis mengatakan aktivitas sekolah telah terganggu selama sekitar dua pekan, sementara warga yang bekerja sebagai buruh kasar dan mengandalkan hasil kebun ikut merasakan dampak kabut asap. Ia juga mengeluhkan belum adanya pembagian masker secara khusus bagi warga di lingkungan tempat tinggalnya, meskipun menurutnya pembagian masker telah berlangsung di wilayah lain di Kota Sorong.
“Belum dapat bantuan macam masker begitu. Padahal di Sorong kota kan sudah bagi-bagi juga. Kalau kita di kelurahan bagian kita ini belum,” keluhnya.
Warga berharap Pemerintah Kota Sorong, pemerintah kelurahan, serta jajaran RT/RW segera menyalurkan masker dan bantuan yang dibutuhkan masyarakat, sekaligus mempercepat pemadaman titik api yang masih tersisa. Bagi warga dan pemulung, persoalan ini bukan semata-mata tentang kebakaran, melainkan juga keselamatan, pendidikan, kesehatan, dan keberlangsungan hidup sehari-hari.
“Kita minta kalau memang ada pemerintah setempat mau bantu, ya tetap kita minta, karena asap ini mengganggu kita juga. Walaupun hujan, tetap terganggu karena kabut,” pungkas Antonis.
Di tengah kepulan asap yang belum sepenuhnya sirna, perjuangan para pemulung menggambarkan kerasnya kehidupan masyarakat yang bergantung pada penghasilan harian. Mereka membutuhkan perlindungan kesehatan dan pilihan mata pencaharian yang lebih aman, sementara warga menantikan penanganan kebakaran serta bantuan nyata agar dapat kembali menghirup udara yang lebih bersih.
Penulis: Eskop Wisabla

















