Kopi Modio Punya Potensi Besar, Petani Keluhkan Kendala Listrik dan Pemasaran

banner 120x600
banner 468x60

DOGIYAI, PAPUA TENGAH — Petani kopi Modio di Kabupaten Dogiyai, Andreas Tekege, berharap Festival Kopi Papua Tengah 2026 menjadi momentum untuk membuka peluang pemasaran yang lebih luas bagi petani kopi lokal, sekaligus memperkenalkan kopi Arabika Modio ke pasar nasional hingga internasional.

Festival Kopi Papua Tengah 2026 dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Nabire pada 29–30 Oktober 2026. Kegiatan yang dipimpin Ketua Panitia Andreas Gobai ini diharapkan menjadi ruang bagi petani dan pelaku usaha kopi untuk memperkenalkan produk unggulan daerah, bertemu calon pembeli, serta membangun jaringan pemasaran yang berkelanjutan.

Kopi Modio dari Kabupaten Dogiyai menjadi salah satu produk lokal yang akan diperkenalkan dalam festival tersebut.
Kepada media, Jumat (23/10/2026), Andreas Tekege mengatakan dirinya siap mengikuti kegiatan tersebut. Ia berharap festival ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat nyata bagi petani kopi di daerahnya.

Saat ini, Andreas mengelola sekitar 800 pohon kopi bersama ibu dan istrinya. Ia juga menargetkan pengembangan kebun hingga mencapai 1.000 pohon untuk meningkatkan produksi kopi keluarga.

“Selama ini kami mengerjakan kopi hanya bersama ibu dan istri saya. Saat ini saya merawat sekitar 800 pohon kopi dan sedang menargetkan pengembangan kebun sampai 1.000 pohon,” ujar Andreas melalui tertulis diterima wartawan.

Kopi Modio, Warisan Leluhur dan Sumber Penghidupan Keluarga

Andreas menjelaskan, kopi Modio merupakan warisan leluhur yang terus dirawat dan dikembangkan oleh masyarakat setempat. Tanaman kopi Arabika tersebut bukan hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga petani.

Menurutnya, kopi Modio memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan Kabupaten Dogiyai apabila didukung dengan fasilitas pengolahan, pemasaran, dan perhatian pemerintah.
Saat ini, harga kopi yang dijual Andreas mencapai Rp100.000 per kilogram.

Pendapatan dari hasil kebun tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai pendidikan anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Harga kopi sekarang tembus Rp100.000 per kilogram. Hasilnya untuk kebutuhan keluarga dan biaya anak-anak sekolah. Anak-anak saya masih SD, sehingga saya berharap dari kopi ini mereka bisa terus bersekolah,” katanya.

Bagi Andreas, kopi bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan sumber penghidupan yang membantu keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus memastikan pendidikan anak-anak tetap berjalan.

Terkendala Listrik, Petani Harap Dukungan Pemerintah

Di balik potensi ekonomi yang dimiliki kopi Modio, Andreas mengungkapkan bahwa petani masih menghadapi kendala dalam proses pengolahan hasil panen.

Ia mengatakan, peralatan pengolahan kopi sebenarnya telah tersedia di kampungnya. Namun, peralatan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena belum tersedia aliran listrik.

Kondisi ini menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian agar petani dapat mengolah hasil panen dengan lebih baik dan meningkatkan nilai jual produk kopi mereka.
Karena itu, Andreas berharap Pemerintah Kabupaten Dogiyai dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah dapat memberikan dukungan, terutama dalam penyediaan fasilitas pemasaran dan pengembangan usaha kopi lokal.

“Saya berharap Pemerintah Kabupaten Dogiyai dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah bisa menyediakan tempat untuk memasarkan kopi ini, paling tidak di Nabire atau di ibu kota provinsi. Kami ingin kopi Modio dikenal lebih luas, sampai ke pasar nasional dan internasional,” ungkapnya.

Menurut Andreas, keberadaan tempat pemasaran yang memadai akan membantu petani memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat, pelaku usaha, dan calon pembeli. Dengan demikian, kopi Modio diharapkan tidak hanya dikenal di wilayah Papua Tengah, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain pemasaran, ia menilai dukungan terhadap fasilitas pengolahan dan tempat penampungan hasil panen juga penting. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produksi sekaligus memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik dari hasil perkebunan mereka.

Festival Kopi Diharapkan Hasilkan Kerja Sama Nyata

Andreas menilai Festival Kopi Papua Tengah 2026 merupakan kesempatan penting bagi petani untuk memperkenalkan hasil kebun secara langsung kepada masyarakat dan pelaku usaha.

Namun, ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pameran dan promosi produk semata. Lebih dari itu, festival diharapkan mampu membuka akses kepada pembeli, memperluas jaringan distribusi, serta mendorong terbentuknya kerja sama pemasaran yang berkelanjutan.

Menurutnya, potensi kopi lokal akan sulit berkembang secara maksimal apabila petani hanya mengandalkan hasil kebun tanpa dukungan akses pasar dan fasilitas pengolahan yang memadai.
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha dinilai penting untuk mendorong kopi Modio menjadi salah satu produk unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ajak Generasi Muda Rawat Kopi Modio
Selain berharap adanya dukungan pemerintah, Andreas juga mengajak generasi muda di wilayah Mapia untuk terlibat aktif dalam merawat dan mengembangkan kebun kopi.

Ia menilai keterlibatan anak muda sangat penting untuk menjaga keberlanjutan perkebunan kopi yang telah diwariskan oleh leluhur. Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menikmati hasilnya, tetapi juga perlu terlibat langsung dalam proses perawatan tanaman hingga menghasilkan buah.

Andreas berharap kopi Modio dapat terus dikembangkan oleh generasi berikutnya sehingga tetap menjadi sumber penghidupan masyarakat dan memiliki daya saing di masa depan.

“Saya berharap anak-anak muda juga mau ikut merawat kopi. Jangan hanya ingin menikmati hasilnya, tetapi harus mau bekerja dan merawat tanaman dari awal supaya kopi ini tetap ada untuk generasi berikutnya,” pungkasnya.

Harapan Andreas menjadi pengingat bahwa pengembangan kopi lokal tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi dan perluasan pasar, tetapi juga menyangkut keberlanjutan warisan leluhur serta masa depan ekonomi masyarakat petani di Kabupaten Dogiyai.

Melalui Festival Kopi Papua Tengah 2026, kopi Modio diharapkan semakin dikenal dan memperoleh peluang pemasaran yang lebih luas, sehingga potensi perkebunan kopi dapat memberikan manfaat nyata bagi petani dan generasi mendatang. Eskop Wisabla.

banner 325x300
Penulis: Eskop Wisabla Editor: Usman Nopo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90