SARMI, PAPUA — Pelayanan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Neidam, Kabupaten Sarmi, menjadi sorotan setelah seorang warga mengeluhkan dugaan tindakan tidak tertib yang dilakukan seorang oknum Polisi Wanita (Polwan) saat mengisi bahan bakar minyak (BBM). Jumat (30/10/2026).
Keluhan tersebut mencuat melalui unggahan media sosial yang disertai video kiriman Aldo Yarangga. Dalam unggahannya, warga menyampaikan kekecewaan terhadap perilaku seorang Polwan yang diduga memotong antrean kendaraan dan meminta petugas SPBU melayani pengisian BBM kendaraannya lebih dahulu.
Menurut keterangan warga dalam unggahan tersebut, masyarakat telah mengantre sejak pagi hingga sore hari. Situasi semakin menyulitkan karena pemadaman listrik turut memengaruhi aktivitas pelayanan di SPBU.
Di tengah kondisi tersebut, seorang Polwan yang disebut sedang menjalankan tugas piket diduga meminta agar kendaraannya diprioritaskan untuk mengisi BBM. Alasan yang disampaikan berkaitan dengan tugas kepolisian, yakni mengantisipasi apabila terjadi kecelakaan lalu lintas yang membutuhkan penanganan segera.
Namun, alasan tersebut justru memunculkan keberatan dari warga yang merasa telah lama menunggu dalam antrean. Warga mempertanyakan apakah status sebagai anggota kepolisian dapat menjadi alasan untuk mendahului masyarakat yang sudah lebih dahulu mengantre.
Dalam unggahannya, warga juga mengaku telah berusaha memberikan penjelasan, tetapi justru menghadapi respons yang dinilai tidak mencerminkan sikap pelayanan yang baik.
Persoalan lain yang turut disinggung warga adalah pemahaman mengenai BBM bersubsidi dan nonsubsidi. Warga berharap setiap pihak, termasuk aparat penegak hukum, memahami ketentuan pengisian BBM dan menghormati mekanisme pelayanan yang berlaku di SPBU.
“Ko kira ko saja yang kerja buat Negara Indonesia ini? Harusnya ko tahu aturan. Kitong su antre dari matahari terbit sampai matahari terbenam,” demikian keluhan warga dalam unggahan tersebut.
Warga menegaskan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan kepada seluruh institusi kepolisian, melainkan kepada oknum yang diduga melakukan tindakan tersebut. Mereka berharap perilaku seorang anggota tidak sampai merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.
Masyarakat juga meminta pimpinan kepolisian, khususnya jajaran satuan lalu lintas di Kabupaten Sarmi, agar memberikan perhatian dan melakukan klarifikasi terhadap kejadian yang diduga berlangsung di SPBU Neidam tersebut.
Sebab, seragam kepolisian bukanlah alasan untuk memperoleh perlakuan istimewa. Sebaliknya, setiap anggota Polri diharapkan menjadi contoh dalam menaati aturan, menjaga etika, serta memberikan pelayanan yang adil kepada masyarakat.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun klarifikasi dari Polwan yang disebut dalam unggahan tersebut. Karena itu, konfirmasi dari pihak terkait tetap diperlukan untuk memastikan kronologi dan duduk perkara secara utuh.
Aparat penegak hukum seharusnya menjadi teladan dalam antrean, bukan justru menjadi pihak yang dipersoalkan karena diduga mendahului masyarakat.

















