Alun-alun Aimas Menjadi Kelas Terbuka, Peserta Festival Sastra Sorong Belajar Membaca Kehidupan Warga

banner 120x600
banner 468x60

AIMAS, PAPUA BARAT DAYA — Kehidupan tidak selalu mengajarkan pelajaran melalui buku dan ruang kelas. Terkadang, pengetahuan justru bersembunyi di balik kesibukan seorang mama penjual pinang, aktivitas pedagang kaki lima, hingga percakapan sederhana warga di ruang publik. Dari kehidupan sehari-hari itulah peserta Festival Sastra Sorong belajar membaca masyarakat melalui praktik etnografi.

Pengalaman tersebut berlangsung di Alun-alun Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (19/9/2026). Kawasan yang biasa menjadi tempat warga beraktivitas itu berubah menjadi ruang belajar terbuka bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk mengamati, mewawancarai, mencatat, serta menuliskan kehidupan di sekitar mereka.

Kegiatan bertajuk “Etnografi Mini: Mengamati Kehidupan Sekitar” diselenggarakan Rumah Kata Sorong sebagai bagian dari rangkaian Kelas Publik Tematik Festival Sastra Sorong. Berlangsung pukul 13.00 hingga 17.00 WIT, kelas ini menghadirkan Darmawati Majid sebagai narasumber.

Alih-alih hanya menerima teori, peserta diajak terjun langsung menemui masyarakat. Mereka belajar bahwa etnografi bukan semata-mata membicarakan kebudayaan dalam bentuk tradisi besar, melainkan juga memahami kebiasaan, aktivitas, interaksi, dan pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca Kehidupan dari Hal-Hal Sederhana

Pada sesi awal, Darmawati memperkenalkan dasar-dasar etnografi sebagai pendekatan untuk mengamati dan menggambarkan kehidupan masyarakat melalui pengamatan langsung dan wawancara. Peserta diajak memahami bahwa sebuah tulisan yang baik perlu bertumpu pada informasi yang ditemukan di lapangan, bukan sekadar dugaan atau penilaian pribadi.

Cara pedagang melayani pembeli, kebiasaan warga menggunakan fasilitas umum, hingga interaksi di antara orang-orang yang beraktivitas di satu tempat dapat menjadi bahan pengamatan. Hal-hal yang sekilas tampak biasa menyimpan beragam pengalaman dan sudut pandang yang dapat dipahami lebih jauh melalui pertanyaan yang tepat.

Dari materi tersebut, peserta belajar mengasah kepekaan terhadap lingkungan. Mereka tidak cukup hanya melihat apa yang tampak di depan mata, tetapi juga perlu mendengarkan penjelasan orang-orang yang menjalani aktivitas tersebut secara langsung.

Keluar dari Ruang Materi, Menemui Warga

Setelah sesi pengantar, peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk melakukan pengamatan dan wawancara di sekitar Alun-alun Aimas. Setiap kelompok menentukan objek pengamatan, menyusun pertanyaan, mendengarkan keterangan narasumber, serta mencatat informasi yang relevan.

Praktik ini mempertemukan peserta dengan situasi nyata yang tidak selalu ditemukan dalam pembelajaran di dalam ruangan. Mereka harus membangun komunikasi, memperhatikan kondisi lingkungan, dan menggali informasi tanpa mengabaikan kenyamanan warga yang diwawancarai.

Melalui proses tersebut, peserta belajar bahwa wawancara bukan sekadar mengajukan pertanyaan dan mencatat jawaban. Mereka juga perlu memahami konteks cerita, membedakan fakta yang diamati dengan penafsiran, serta menyampaikan keterangan narasumber secara bertanggung jawab.

Mama Penjual Pinang Menjadi Sumber Cerita

Salah satu kelompok memilih seorang mama penjual pinang sebagai narasumber. Aktivitas perempuan tersebut menjadi pintu masuk untuk mempelajari kehidupan ekonomi masyarakat di sekitar alun-alun.

Peserta menggali informasi mengenai kegiatan berjualan, kebiasaan, serta pengalaman yang disampaikan sang mama dalam menjalani kesehariannya. Dari pertemuan itu, mereka berlatih melihat kegiatan ekonomi sederhana sebagai bagian dari kehidupan sosial yang layak diamati dan dituliskan.

Di balik barang yang ditawarkan kepada pembeli, terdapat aktivitas kerja, interaksi, dan pengalaman pribadi yang hanya dapat dipahami lebih baik melalui percakapan langsung. Namun, peserta juga belajar untuk tidak menyimpulkan keadaan hidup narasumber hanya berdasarkan apa yang terlihat.

Sebuah tulisan etnografi harus dibangun dari catatan pengamatan dan keterangan yang benar-benar diperoleh. Dengan demikian, cerita yang dihasilkan tidak berubah menjadi asumsi penulis, melainkan menjadi gambaran yang lebih bertanggung jawab tentang kehidupan seseorang.

Pedagang Kaki Lima dan Pengguna Aula Membuka Sudut Pandang Berbeda

Kelompok lain mewawancarai pedagang kaki lima yang beraktivitas di kawasan tersebut. Mereka menggali informasi mengenai kegiatan perdagangan dan pengalaman pedagang dalam memanfaatkan Alun-alun Aimas sebagai ruang usaha.

Sementara itu, kelompok lainnya berbincang dengan warga yang menggunakan aula di kawasan alun-alun. Pengamatan ini diarahkan untuk memahami pengalaman warga serta pemanfaatan fasilitas umum sesuai kebutuhan mereka.

Dari objek yang berbeda, peserta menemukan bahwa satu tempat dapat memiliki beragam fungsi dan makna. Bagi pedagang, kawasan itu menjadi tempat mencari penghasilan. Bagi pengguna aula, fasilitas tersebut dimanfaatkan sesuai keperluan. Bagi pengunjung lainnya, alun-alun menjadi ruang untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Perbedaan pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa ruang publik tidak hanya dapat dipahami dari bentuk fisiknya. Kehidupan sebuah tempat juga dibentuk oleh orang-orang yang datang, bekerja, berinteraksi, dan memanfaatkannya dengan tujuan masing-masing.

Dari Catatan Lapangan Menjadi Tulisan

Setelah menyelesaikan pengamatan dan wawancara, setiap kelompok mengumpulkan catatan untuk diolah menjadi tulisan etnografi. Mereka memilih informasi yang relevan, menyusun hasil pengamatan, dan merangkai keterangan narasumber menjadi cerita yang dapat dipahami pembaca.

Tahap ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Peserta berlatih membedakan apa yang benar-benar mereka lihat, apa yang disampaikan narasumber, dan apa yang menjadi penafsiran mereka sendiri.

Ketelitian tersebut diperlukan agar tulisan tidak menambahkan informasi yang tidak pernah ditemukan atau membuat kesimpulan yang melampaui data. Menulis tentang kehidupan orang lain bukan hanya persoalan merangkai kata, tetapi juga menyangkut tanggung jawab terhadap cerita yang disampaikan.

Menjelang penutupan kegiatan, perwakilan setiap kelompok membacakan hasil tulisan mereka. Ada yang mengangkat aktivitas mama penjual pinang, ada yang menyoroti kehidupan pedagang kaki lima, dan ada pula yang membahas pengalaman warga dalam menggunakan aula.

Setiap tulisan menghadirkan sudut pandang berbeda dari lokasi pengamatan yang sama. Pengalaman yang semula hadir dalam bentuk percakapan, aktivitas, dan catatan lapangan kemudian dirangkai menjadi cerita yang dapat dibagikan kepada orang lain.

Festival Sastra sebagai Ruang Belajar Bersama

Kelas Publik “Etnografi Mini: Mengamati Kehidupan Sekitar” merupakan bagian dari rangkaian Kelas Publik Tematik Festival Sastra Sorong yang diselenggarakan Rumah Kata Sorong. Program ini didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan.

Melalui kegiatan tersebut, pembelajaran sastra dan penulisan dipertemukan dengan pengalaman langsung di tengah masyarakat. Peserta tidak hanya mempelajari cara mengamati kehidupan sosial, tetapi juga berlatih mendengarkan, menggali informasi, mengolah catatan, dan menyampaikan hasil pengamatan dalam bentuk tulisan.

Alun-alun Aimas pun menjadi lebih dari sekadar lokasi kegiatan. Ruang publik tersebut menghadirkan kesempatan bagi peserta untuk mengenali kehidupan dari berbagai sudut pandang, sekaligus memahami pentingnya ketelitian dan kepekaan ketika menulis tentang masyarakat.

Pada akhirnya, pelajaran etnografi bermula dari kesediaan untuk mendekat, mengamati dengan saksama, dan mendengarkan tanpa tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Sebab, sebuah cerita tidak selalu lahir dari peristiwa besar atau tokoh terkenal. Terkadang, cerita justru tumbuh dari kehidupan sehari-hari yang selama ini berada begitu dekat dengan mata.

Dari Alun-alun Aimas, peserta Festival Sastra Sorong belajar bahwa setiap orang memiliki pengalaman, setiap ruang menyimpan makna, dan setiap cerita layak dituliskan dengan jujur berdasarkan apa yang benar-benar ditemukan di lapangan.

Eskop Wisabla

banner 325x300
Penulis: Eskop Wisabla Editor: Usman Nopo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90