AYAMARU, PAPUA BARAT DAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Kobaran api dilaporkan telah membakar kawasan hutan sekitar 30 kilometer persegi di Distrik Ayamaru Selatan dan belum berhasil dipadamkan secara maksimal.
Menurut keterangan masyarakat setempat, kebakaran telah berlangsung sekitar tiga pekan. Luas area yang terbakar disebut setara dengan lebih dari 50 lapangan sepak bola.
Warga menyebut api awalnya berasal dari aktivitas pembakaran kebun yang kemudian merambat ke kawasan hutan. Kobaran api selanjutnya meluas dan membakar kawasan hutan di tiga desa, yakni Sauf, Koma-Koma, dan Sembaro.
Kini, api dilaporkan terus bergerak menuju wilayah perbatasan Kabupaten Sorong Selatan, termasuk Desa Sesor, Boldon, Sungguer dan wilayah sekitarnya.
Masyarakat mengatakan upaya pemadaman selama ini dilakukan secara swadaya menggunakan peralatan seadanya. Namun, luasnya wilayah yang terbakar membuat upaya tersebut tidak mampu mengendalikan kobaran api.
“Memasuki hari ke-25, api masih terus meluas. Sementara bantuan dari Pemda Maybrat sangat kecil. Hanya satu unit mobil pemadam kebakaran yang turun ke lapangan sehingga tidak maksimal membantu masyarakat,” kata warga melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Jumat (2/10/2026).
Warga juga mengaku belum melihat bantuan dalam skala yang memadai dari pemerintah maupun pihak terkait lainnya. Mereka meminta Pemkab Maybrat segera meningkatkan penanganan di lapangan serta meminta dukungan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan.
“Masyarakat berharap pemerintah Kabupaten Maybrat segera meningkatkan bantuan ke lapangan. Begitu juga bantuan dari Provinsi Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan. Sebab, hingga saat ini api belum padam dan masih terus meluas menuju perbatasan Kabupaten Sorong Selatan,” ujar warga.
Sementara itu, Kepala Distrik Ayamaru Selatan, David Lemauk, S.Sos., yang turut memimpin upaya pemadaman di lapangan mengatakan kondisi kebakaran cukup berat. Menurut dia, tenaga masyarakat saja tidak cukup untuk mengendalikan kobaran api.
“Api sangat besar, sehingga tenaga masyarakat saja tidak mungkin. Oleh sebab itu, harus ada bantuan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Masyarakat masih menunggu bantuan karena api hingga saat ini belum padam,” kata David.
Hal senada disampaikan Tokoh Pemuda Ayamaru Selatan, Thonis Safkaur. Ia mengatakan kebakaran telah menghanguskan kawasan hutan masyarakat yang tersisa.
“Hutan masyarakat yang tersisa sudah terbakar habis. Tapi belum ada bantuan sama sekali dari pemerintah. Apakah pemerintah harus tunggu sampai semua hutan terbakar habis dulu?” ujar Thonis.
Hingga kini, masyarakat Distrik Ayamaru Selatan masih melakukan berbagai upaya untuk memadamkan api. Namun, luasnya area terdampak dan kobaran yang terus meluas membuat penanganan secara mandiri belum mampu mengatasi kebakaran.
Masyarakat terdampak meminta Pemkab Maybrat, Pemprov Papua Barat Daya, serta pemerintah daerah terkait segera mengambil langkah konkret. Mereka berharap tim penanganan karhutla di Papua Barat Daya turun langsung dengan dukungan personel, peralatan, dan sarana pemadaman yang memadai agar api tidak semakin meluas ke wilayah Sorong Selatan.
Penulis: Eskop Wisabla

















