PEGUNUNGAN ARFAK – Masyarakat Distrik Didohu menyampaikan keluhan sekaligus harapan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Arfak terkait kondisi infrastruktur di kawasan Kali Didohu yang dinilai sangat memprihatinkan dan membahayakan keselamatan warga.
Keluhan tersebut disampaikan mewakili masyarakat dari 14 kampung di Distrik Didohu dan 15 kampung di Distrik Testega yang selama ini bergantung pada akses jalan dan penyeberangan di wilayah tersebut.
Melalui pesan WhatsApp kepada media pada Minggu malam, 24 Mei 2026, Yanus Dowansiba menjelaskan bahwa terdapat dua titik kritis di Kali Didohu yang hingga kini menjadi sumber risiko besar bagi masyarakat.
Menurutnya, saat debit air meningkat dan banjir terjadi, aktivitas penyeberangan warga maupun kendaraan sering terganggu sehingga akses transportasi tidak berjalan normal.
“Kalau kali banjir, mobil yang lewat bisa hanyut,” ujar Yanus menyampaikan kondisi yang selama ini dialami masyarakat Distrik Didohu.
Ia juga mengungkapkan bahwa banjir kembali terjadi pada Sabtu siang dan menyebabkan kekhawatiran masyarakat karena kondisi arus sungai sangat kuat dan berbahaya bagi pengguna jalan.
Warga menilai persoalan tersebut bukan hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga telah menimbulkan kerugian besar karena kendaraan yang melintas berpotensi terseret arus sungai.
Bahkan menurut keterangan warga, kejadian mobil hanyut di Kali Didohu sudah terjadi sebanyak tujuh kali, sehingga dianggap bukan lagi insiden biasa melainkan persoalan serius yang membutuhkan perhatian pemerintah daerah.
Masyarakat menilai penanganan infrastruktur di wilayah Didohu hingga saat ini belum maksimal karena belum adanya pembangunan jembatan permanen di titik rawan banjir tersebut.
Akibatnya, kendaraan masih harus menyeberangi kali secara langsung dalam kondisi tertentu, yang tentu semakin berisiko ketika hujan deras dan banjir datang.
Selain itu, kondisi geografis Distrik Didohu yang cukup berat membuat dampak kerusakan akses jalan menjadi semakin luas karena beberapa wilayah dapat mengalami isolasi saat jalur utama terputus.
Karena itu, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak segera memprioritaskan pembangunan jembatan permanen di Kali Didohu, terutama pada dua titik rawan yang selama ini membahayakan keselamatan warga.
Warga juga meminta adanya peningkatan jalan penghubung Didohu–Testega agar aktivitas masyarakat dapat berjalan lebih aman dan tidak lagi terganggu ketika banjir melanda.
Selain pembangunan fisik, masyarakat berharap pemerintah daerah segera melakukan kajian lapangan serta mengambil langkah cepat dan terukur demi mengatasi persoalan infrastruktur yang telah lama dikeluhkan warga.
“Keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama,” tegas warga melalui aspirasi yang disampaikan oleh Yanus Dowansiba.
(Derinus Indow)


















