SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Menjadi aktor bukan sekadar menghafal dialog dan berdiri di atas panggung. Ada konsentrasi, ketajaman artikulasi, kelenturan gerak, serta keberanian menyelami emosi yang harus diasah. Prinsip itulah yang diperkenalkan Rumah Kata Sorong melalui Kelas Publik Keaktoran dalam rangkaian Festival Sastra Sorong.
Kegiatan tersebut berlangsung di Perpustakaan Daerah Kota Sorong, Sabtu (5/9/2026), pukul 13.00–17.00 WIT. Pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum mendapat kesempatan mempelajari dasar-dasar seni peran melalui latihan langsung yang dipandu Sabri Sahafuddin sebagai narasumber.
Kelas Publik Keaktoran merupakan bagian dari program Kelas Publik Tematik Festival Sastra Sorong. Program ini didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan.
Alih-alih hanya duduk mendengarkan teori, peserta langsung diajak bergerak, mengamati, merespons, dan mengolah ekspresi. Latihan dirancang untuk mengembangkan konsentrasi, kepekaan terhadap gerakan, spontanitas, penguasaan intonasi, artikulasi, imajinasi, hingga kemampuan menghayati emosi.
Salah satu latihan pembuka adalah permainan cermin. Peserta berpasangan, dengan satu orang berperan sebagai cermin yang harus mengikuti setiap gerakan rekannya. Gerakan sederhana ini menuntut perhatian penuh, ketepatan pengamatan, dan keselarasan respons. Dari latihan tersebut, peserta belajar bahwa seorang aktor tidak hanya dituntut mampu mengekspresikan diri, tetapi juga peka terhadap gerakan dan kehadiran orang lain.
Latihan kemudian berlanjut dengan berjalan mengelilingi ruangan sambil mengikuti instruksi narasumber. Ketika menerima arahan tertentu, peserta harus segera memperagakan gerakan yang diminta, termasuk gerakan makan. Latihan ini mengasah kesiapan tubuh, spontanitas, dan kemampuan merespons perubahan situasi tanpa kehilangan konsentrasi.
Suasana semakin menarik ketika peserta memasuki sesi olah suara. Sabri membimbing mereka melafalkan huruf vokal a, i, u, e, dan o secara bertahap. Peserta selanjutnya menyusun satu kalimat dan membacakannya dengan variasi intonasi pada setiap kata. Mereka juga diminta mengucapkan kalimat sambil menggigit kertas, sebuah latihan untuk menantang ketepatan pengucapan dan memperjelas artikulasi.
Di balik latihan yang tampak sederhana itu, terdapat upaya membangun kesadaran bahwa suara merupakan salah satu instrumen utama seorang aktor. Kata-kata yang sama dapat menghadirkan makna dan emosi berbeda melalui perubahan tekanan, irama, serta intonasi. Sementara itu, artikulasi yang jelas membantu pesan dalam dialog tersampaikan kepada penonton.
Sesi imajinasi dan penghayatan emosi menghadirkan pengalaman berbeda. Peserta membentuk lingkaran dan menutup mata ketika narasumber memutar rekaman suara hujan deras, badai, dan petir. Mereka diminta membayangkan situasi berdasarkan suara tersebut, mengekspresikan perasaan yang muncul, lalu menceritakan pengalaman emosional setelah latihan berakhir. Melalui proses ini, peserta diajak memahami bagaimana rangsangan suara dapat memantik imajinasi dan membangun suasana dalam sebuah penampilan.
Berbagai latihan tersebut menjadi landasan untuk memahami monolog, bentuk pertunjukan yang berpusat pada satu tokoh yang mengungkapkan pikiran, perasaan, atau pergulatan batinnya. Sabri menekankan pentingnya memahami isi naskah, karakter tokoh, serta emosi yang hendak disampaikan sebelum seorang aktor membawakan monolog di hadapan penonton.
Intonasi, artikulasi, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan penghayatan menjadi unsur yang saling melengkapi dalam membangun karakter. Penguasaan teknik tersebut membantu aktor menyampaikan pesan secara lebih meyakinkan, sehingga penonton tidak sekadar mendengar kata-kata, tetapi juga dapat menangkap pergulatan batin tokoh yang diperankan.
Pada akhir kegiatan, peserta memperoleh kesempatan mempraktikkan monolog secara langsung. Mereka mencoba memadukan penguasaan suara, gerakan, ekspresi, dan penghayatan untuk membangun karakter serta menyampaikan cerita secara lebih hidup. Latihan ini menjadi ruang bagi peserta untuk menguji pemahaman sekaligus mengenali potensi dan aspek keaktoran yang masih perlu dikembangkan.
Melalui Kelas Publik Keaktoran, Rumah Kata Sorong menghadirkan Festival Sastra Sorong bukan hanya sebagai ruang menikmati karya sastra, melainkan juga sebagai tempat belajar, bereksperimen, dan mengembangkan kreativitas. Dari gerak cermin hingga latihan menggigit kertas, peserta diajak memahami bahwa seni peran tumbuh melalui kedisiplinan, kepekaan, dan keberanian menghidupkan kata menjadi pengalaman yang bermakna.
Eskop Wisabla

















