Sinergi Cegah Kriminalitas dan Narkoba: Pertanyaan Kritis Siswa SMAN 2 Kota Sorong untuk Kesbangpol Pemprov Papua Barat

banner 120x600
banner 468x60

SORONG — Generasi muda di Kota Sorong kembali menunjukkan kepedulian kritis terhadap masa depan Melalui sebuah forum digagas oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Papua Barat Daya memfasilitasi Rapat Koordinasi Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Papua Barat Daya di Hotel Belagri, Kota Sorong, pada Jumat (23/10/2026).

Forum tersebut Chris Wattimena, seorang siswa dari SMA Negeri 2 Kota Sorong kelas 2, yang hadir sebagai peserta menyampaikan pertanyaan mendalam kepada pemerintah, khususnya Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemerintah Provinsi.

Pertanyaan tersebut menyoroti efektivitas serta pendekatan program pembinaan bagi anak muda yang terpapar penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya (narkoba) serta lem Aibon, yang rencananya akan dibawa dan dilatih di barak militer selama satu hingga dua bulan.

Chris Wattimena menjelaskan bahwa program pembinaan di barak militer ini bertujuan untuk menekan angka kejahatan serta aksi terorisme di Kota Sorong. Namun, ia melontarkan sejumlah poin krusial yang menjadi kekhawatiran di tengah masyarakat dan kalangan generasi muda berkaitan mereka yang mengalami masalah tersebut.

Potensi Penolakan dan Perlawanan: Chris menilai bahwa generasi muda tidak semata-mata akan patuh begitu saja untuk dibawa ke barak militer. Jika langkah ini diterapkan secara kaku, dikhawatirkan justru memicu aksi perlawanan dari para pemuda.
Kondisi Kesehatan Mental dan Fisik: Remaja yang telah terpengaruh narkoba dan lem Aibon umumnya mengalami gangguan saraf (brain damage atau adiksi kronis).

Siswa itu Pertanyaannya, sejauh mana pemerintah dapat menjamin bahwa pemulihan mereka bisa optimal jika ditempatkan di lingkungan barak militer? Chris mempertanyakan strategi konkret dari pemerintah agar kebijakan ini dapat diterima secara persuasif oleh masyarakat luas tanpa menimbulkan stigma negatif maupun gesekan sosial di lapangan.

Dalam responnya Pertanyaan tersebut
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Papua Barat Daya Drs. George Japsenang, M.Si. menyampaikan bahwa,
Upaya untuk mengembalikan rasa percaya diri serta memperbaiki karakter individu yang sempat terpapar atau berada dalam kelompok rentan bukanlah hal yang mudah.

Namun, dengan optimisme yang tinggi serta tahapan asesmen yang terukur, pemulihan sosial dan mental bagi kelompok rentan terbukti dapat memberikan hasil yang nyata.

Ia ungkapkan dalam sebuah pemaparan program pembinaan, di mana setiap tahapan dirancang secara sistematis sebelum peserta dimasukkan ke dalam program pendidikan dan pelatihan khusus, seperti halnya barak militer. Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi kunci utama untuk memastikan kondisi fisik peserta tetap prima.

“Upaya dan rencana saya bagaimana untuk mengembalikan rasa kepercayaan diri, mengembalikan karakter orang ini memang sangat sulit. Tapi saya optimis, tidak pesimis, sangat optimis sekali,” ujar narasumber dalam keterangannya.

Katanya, Dalam proses pembinaannya, peserta menjalani jadwal yang ketat mulai dari subuh hari. Kegiatan ini mencakup olahraga rutin, penyampaian materi, pendidikan rohani, hingga pelatihan vokasi yang berlangsung hingga sore hari.

Pendekatan ini membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang prima dari setiap individu, Asesmen dan pemeriksaan kesehatan wajib dilakukan di awal agar kondisi fisik peserta benar-benar siap. Hal ini untuk mengantisipasi risiko kesehatan mengingat padatnya aktivitas fisik yang harus dijalani.

“Jangan sampai jantungnya sudah rusak atau baru begitu kita kasih masuk, dia baru lari dua meter langsung dia game lagi, wah itu kena case membahayakan orang lagi. Jadi tetap ada tahapan-tahapan pemeriksaan kesehatan sebelum mereka masuk,” tambahnya.

Pihaknya Kesbangpol menyebut,Target utama dari program ini adalah merangkul kelompok masyarakat yang rentan agar mereka dapat keluar, mengurangi risiko sosial, serta bertindak sebagai mediator yang membuktikan bahwa mereka kini telah memiliki keterampilan, pekerjaan, serta sertifikasi resmi.

Kegiatan mengusung tema: “Generasi Muda Papua Barat Daya yang Toleran dan Cinta Damai Menangkal Radikalisme dan Terorisme.” Eskop Wisabla.

banner 325x300
Penulis: Eskop Wisabla Editor: Usman Nopo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90