JAYAPURA — Tokoh pemuda Papua Jose Alvan Ohee, yang akrab disapa Jose Ohee, menyoroti persoalan pengangguran dan berbagai faktor yang menurutnya berkontribusi terhadap tingginya angka kematian orang asli Papua (OAP), khususnya kelompok usia produktif.
Jose mengatakan persoalan yang dihadapi pemuda Papua tidak hanya berkaitan dengan konflik bersenjata. Menurut dia, sejumlah persoalan sosial dan kesehatan justru banyak terjadi di kawasan perkotaan.
“Di tanah ini, kalau mau buka data, kita akan kaget dengar angka jumlah kematian OAP per tahun,” kata Jose. Melalui akun Instagram. Senin 28/9/2026).
Ia menyebut sejumlah kota seperti Jayapura, Sorong, Merauke dan Nabire sebagai wilayah yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius terkait persoalan tersebut.
Menurut Jose, kelompok usia 18 hingga 45 tahun menjadi salah satu kelompok yang harus mendapat perhatian karena berada dalam usia produktif.
“Para pemuda ini mati bukan karena senjata, bukan karena perang. Mereka mati karena HIV/AIDS, mabuk, overdosis, baku pukul, kecelakaan, depresi,” ujarnya.
Jose juga mengaitkan persoalan tersebut dengan kondisi pemuda yang tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap. Karena itu, ia menilai penciptaan akses kerja dan peningkatan keterampilan pemuda menjadi bagian penting dalam mengatasi persoalan sosial di Papua.
“Saya percaya kalau anak Papua punya pekerjaan dan penghasilan, angka kematian dan berbagai masalah bisa ditekan sampai persentase yang signifikan,” katanya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Jose kemudian membangun Sekolah Bagi Pencari Kerja OAP, sebuah program pelatihan dan praktik selama lima hari yang ditujukan untuk membekali pemuda Papua dengan keterampilan sebelum memasuki dunia kerja.
Dalam program tersebut, peserta mendapatkan pelatihan komputer dasar dan Excel, Canva, video editing, bahasa Inggris hingga pemanfaatan ChatGPT.
Tidak hanya keterampilan teknis, peserta juga dibekali kemampuan membuat surat lamaran kerja, menyusun curriculum vitae (CV), menghadapi wawancara kerja serta menghadapi psikotes.
“Yang lebih penting, saya ajar para pemuda ini disiplin diri, kendalikan emosi, kelola uang, dan atur pertemanan. Karena karakter itu semua yang bisa bikin anak Papua bertahan kerja di sektor swasta,” ujar Jose.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta diarahkan untuk mendapatkan kesempatan magang di sejumlah perusahaan di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Jose berharap pengalaman tersebut dapat membuka jalan bagi peserta untuk memperoleh pekerjaan.
Ia mengungkapkan program tersebut kini telah melatih sekitar 200 anak Papua setiap bulan. Sepanjang tahun, menurut Jose, lebih dari 1.000 pemuda telah datang dan mengikuti kelas tersebut.
Namun, pelaksanaan program itu masih menghadapi keterbatasan pembiayaan. Jose mengaku selama ini menjalankan kegiatan tersebut menggunakan dana pribadi.
Karena itu, ia meminta dukungan Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Jayapura, Pemerintah Kota Jayapura, DPR Papua, DPR Kota dan Kabupaten Jayapura, Majelis Rakyat Papua (MRP), BUMN, BUMD, perusahaan swasta hingga organisasi nonpemerintah (NGO) internasional.
“Saya kerja bareng ini sendiri dari uang pribadi. Saya butuh dukungan sekali. Ada 200 anak Papua saya latih tiap bulan. Mereka butuh makan siang dan ATK,” katanya.
Jose berharap dukungan berbagai pihak dapat memperluas jangkauan program sehingga semakin banyak pemuda Papua memperoleh keterampilan dan akses menuju dunia kerja.
“Mohon bantuan Bapak Ibu sekalian supaya kita sama-sama cegah kematian orang Papua dan syukur bisa balik keadaan menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan program tersebut dibangun dengan semangat membuka kesempatan bagi pemuda Papua untuk mandiri melalui keterampilan, pekerjaan dan penghasilan.
“Saya yakin sekali kalau kerja keras untuk masyarakat ini, Tuhan akan berkati kita semua,” tutup Jose.

















