Asrama Mahasiswa Raja Ampat di Yogyakarta Memprihatinkan, IPMARAM Desak Pemkab Realisasikan Asrama Permanen

banner 120x600
banner 468x60

YOGYAKARTA — Kondisi asrama mahasiswa asal Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, di Yogyakarta menuai keprihatinan. Keterbatasan kamar, kebocoran atap, fasilitas rusak, hingga keterlambatan pembayaran kontrakan disebut mengganggu kenyamanan mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Raja Ampat se-Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah (IPMARAM) mendesak Pemerintah Kabupaten Raja Ampat segera mengambil langkah konkret untuk membenahi fasilitas asrama putra dan putri, sekaligus merealisasikan asrama permanen bagi mahasiswa di Kota Pelajar.

Ketua Umum IPMARAM se-DIY dan Jateng, Marthen Luther Manggarai, mengatakan persoalan paling mendesak terjadi di Asrama Putra Raja Ampat. Asrama yang hanya memiliki 15 kamar itu kini dihuni lebih dari 30 mahasiswa.

Kondisi kamar yang relatif kecil membuat mahasiswa harus berbagi ruang secara berdesakan. Bahkan, sebagian penghuni terpaksa menerapkan sistem tidur bergantian karena kapasitas kamar tidak mencukupi.

“Karena kapasitas kamar tidak cukup dan ukurannya kecil, anak-anak terpaksa tidur berdesak-desakan. Ada yang tidur duluan, nanti setelah teman yang lain bangun, baru sisanya bisa tidur,” ujar Marthen melalui siaran pers kepada wartawan, Jumat (18/9/2026).

Mesin Air Rusak, Mahasiswa Patungan

Menurut Marthen, persoalan asrama putra tidak hanya menyangkut kapasitas. Sejumlah fasilitas pendukung juga kerap mengalami kerusakan, termasuk mesin pompa air.

Ia menyebut mahasiswa terpaksa mengumpulkan iuran dari uang saku pribadi untuk memperbaiki mesin air agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Kondisi tersebut, kata dia, berkaitan dengan keterlambatan pencairan dana atau pembayaran operasional dari pemerintah daerah yang berdampak pada perawatan fasilitas.

Sementara itu, kondisi Asrama Putri Raja Ampat di Yogyakarta juga dinilai memerlukan perhatian serius. Dari total delapan kamar, beberapa di antaranya dilaporkan mengalami kebocoran parah ketika hujan turun.

Akibat kebocoran tersebut, sejumlah kamar terpaksa dikosongkan dan tidak lagi dapat ditempati. Kondisi ini semakin mempersempit ruang tinggal mahasiswi asal Raja Ampat.

“Ini yang betul-betul butuh perhatian khusus dari Pemkab Raja Ampat, terkhusus Dinas Pendidikan atau dinas terkait. Kondisinya sudah tidak layak,” tegasnya.

Monitoring Jangan Hanya Soal Akademik

IPMARAM meminta Pemkab Raja Ampat melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap mahasiswa penerima beasiswa di berbagai kota studi, termasuk Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Menurut mereka, pemantauan tidak boleh hanya berfokus pada nilai dan aktivitas akademik. Kondisi tempat tinggal, keamanan, kenyamanan, serta fasilitas penunjang kehidupan mahasiswa juga harus menjadi bagian dari evaluasi program beasiswa.

“Monitoring jangan cuma aktivitas akademiknya saja, tetapi non-akademik—termasuk tempat tinggal dan fasilitas kehidupan sehari-hari mereka—juga harus dipantau. Ini penting sebagai bahan evaluasi bagi Pemkab selaku penyelenggara program beasiswa,” paparnya.

Marthen menegaskan, mahasiswa tidak menuntut fasilitas mewah. Mereka hanya menginginkan tempat tinggal yang layak, aman, dan mendukung kelancaran proses perkuliahan.

“Kami sebenarnya mengapresiasi betul program beasiswa yang ada, tetapi ada baiknya juga Pemda bisa memfasilitasi kami dengan tempat tinggal yang layak dan manusiawi,” lanjutnya.

Desak Asrama Permanen Segera Direalisasikan

IPMARAM menilai pemberian beasiswa perlu diiringi dukungan fasilitas hunian yang memadai. Karena itu, mereka mendesak Pemkab Raja Ampat segera merealisasikan asrama permanen bagi mahasiswa dan mahasiswi asal Raja Ampat di Yogyakarta.

Selain pembangunan asrama tetap, mahasiswa meminta pemerintah daerah segera menyelesaikan pembayaran kontrakan asrama putra dan putri sesuai tenggat waktu yang telah dijanjikan. Pemerintah juga diminta memperhatikan seluruh fasilitas pendukung di asrama yang saat ini ditempati mahasiswa.

Desakan tersebut disampaikan sebagai bentuk upaya memastikan mahasiswa dapat menjalani studi secara optimal, terlebih pemerintah daerah telah menetapkan standar IPK bagi penerima beasiswa.

Adapun empat tuntutan IPMARAM se-DIY dan Jateng, yakni:

1. Mendesak Pemkab Raja Ampat segera merealisasikan asrama permanen bagi mahasiswa dan mahasiswi asal Raja Ampat di Yogyakarta.

2. Meminta pemerintah daerah segera membayar kontrakan asrama putra dan putri sesuai tenggat waktu yang telah dijanjikan.

2. Mendesak Pemkab memperhatikan dan memperbaiki fasilitas pendukung asrama yang saat ini ditempati mahasiswa.

3. Meminta pemerintah daerah menjadikan kebutuhan hunian sebagai bagian dari dukungan program beasiswa, sehingga mahasiswa dapat menjalani studi dengan baik dan optimal.

Jangan Hanya Jadi Surga Wisata

Marthen juga menyoroti kontras antara citra Raja Ampat sebagai destinasi wisata dunia dengan kondisi mahasiswa asal daerah tersebut yang tengah menuntut ilmu di perantauan.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak seharusnya hanya diukur dari kemajuan pariwisata, tetapi juga dari perhatian terhadap pendidikan dan kesejahteraan sumber daya manusia.

“Jangan sampai Raja Ampat hanya tampak sebagai ‘surga kecil yang jatuh ke bumi’ di mata para wisatawan dan brosur-brosur pariwisata, sementara anak-anak daerah yang menuntut ilmu di Yogyakarta harus bertahan di asrama yang jauh dari kata layak,” ungkapnya.

Ia berharap Pemkab Raja Ampat segera merespons keluhan mahasiswa melalui renovasi fisik, perbaikan fasilitas, pengalokasian anggaran perawatan, serta pembangunan asrama permanen.

“Harapan kita, selaku mitra pemerintah dalam mewujudkan Generasi Emas Raja Ampat di masa depan, Pemda bisa betul-betul mendengarkan dan menindaklanjuti aspirasi kami ini,” pungkasnya. (*)

Penulis: Eskop Wisabla

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90