MAYBRAT, PAPUA BARAT DAYA — Kerusakan jalan penghubung ibu kota Distrik Mare menuju Kampung Seya, Kabupaten Maybrat, yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun, kembali menjadi sorotan. Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa/i Mare se-Sorong Raya, Bernadus Yewen, mendesak Pemerintah Kabupaten Maybrat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki akses vital tersebut.
Bernadus mengatakan, ruas jalan sepanjang kurang lebih 18 kilometer itu dipenuhi lubang besar, licin, serta memiliki sejumlah tanjakan dengan kondisi yang memprihatinkan. Saat musim hujan, kerusakan semakin parah hingga kendaraan roda empat dilaporkan kesulitan, bahkan tidak dapat melintas.
“Kami sudah sering menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah daerah, tetapi sampai hari ini belum ada realisasi. Jalan ini merupakan urat nadi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat Mare dari ibu kota distrik menuju Seya. Kalau kondisinya rusak seperti ini, bagaimana hasil kebun masyarakat bisa keluar?” ujar Bernadus kepada wartawan di Sorong, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, kerusakan jalan tersebut bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan masalah yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Akses transportasi yang buruk menghambat mobilitas warga, mengganggu distribusi hasil perkebunan, serta meningkatkan biaya perjalanan.
Ia menyebutkan, biaya transportasi masyarakat bahkan meningkat hingga dua kali lipat akibat sulitnya kendaraan menjangkau wilayah tersebut. Kondisi ini dinilai semakin membebani warga yang bergantung pada hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dampak kerusakan jalan juga dirasakan dalam sektor pendidikan dan kesehatan. Akses menuju fasilitas pelayanan dasar menjadi lebih sulit, terutama ketika masyarakat membutuhkan pertolongan medis dalam keadaan darurat yang menuntut penanganan cepat.
Bernadus turut menyoroti perhatian Pemerintah Kabupaten Maybrat di bawah kepemimpinan Bupati Karel Murafer terhadap pembangunan infrastruktur di wilayah Mare. Ia meminta pemerintah memastikan pemerataan pembangunan sehingga masyarakat di kampung-kampung tidak tertinggal dalam memperoleh akses jalan yang layak.
Menurutnya, pembangunan daerah harus menjangkau seluruh wilayah berdasarkan kebutuhan masyarakat. Jalan yang menghubungkan ibu kota distrik dengan Kampung Seya, kata dia, semestinya mendapat perhatian serius karena berperan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan pelayanan publik.
Karena itu, Bernadus mendesak Pemkab Maybrat memprioritaskan perbaikan ruas jalan Mare–Seya dengan mengalokasikan anggaran dalam APBD Tahun Anggaran 2027. Ia juga meminta pemerintah melakukan peninjauan langsung untuk memastikan kondisi kerusakan serta menentukan langkah penanganan yang sesuai.
“Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Kami hanya meminta pemerintah hadir dan memperhatikan penderitaan masyarakat di kampung. Jalan ini sangat penting bagi kehidupan warga, sehingga sudah seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah,” tegasnya.
Bernadus berharap desakan tersebut mendapat perhatian dan tindak lanjut dari pemerintah daerah. Baginya, perbaikan jalan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut kelancaran ekonomi, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, dan hak masyarakat untuk menikmati pembangunan secara merata.
Kini, masyarakat Mare dan Kampung Seya menantikan langkah nyata pemerintah agar kerusakan jalan yang dikeluhkan selama bertahun-tahun tidak terus menjadi penghambat kehidupan warga. Pemerintah Kabupaten Maybrat diharapkan segera meninjau kondisi lapangan dan menjelaskan rencana penanganan ruas jalan tersebut.
Penulis: Eskop Wisabla
Sumber: Papua Bicara | 19 Oktober 2026

















