MANOKWARI, PAPUA BARAT — Senior Ikatan Mahasiswa/i Pegunungan Arfak (IMAPA), Riko Rikson Iba, menekankan pentingnya persatuan, keaktifan berorganisasi, dan pengembangan keterampilan mahasiswa saat membuka Rapat Kerja (RAKER) IMAPA Kota Studi Manokwari periode 2026–2028, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 07.00 WIT di kontrakan mahasiswa Pegunungan Arfak, kawasan Lembah Hijau, Manokwari, itu menjadi momentum bagi pengurus untuk merumuskan program kerja sekaligus memperkuat solidaritas mahasiswa Pegunungan Arfak yang menempuh pendidikan di Kota Studi Manokwari.
RAKER tersebut mengusung tema, “Menjadi Momentum Rapat Program Kerja, Kita Dituntut untuk Memperkuat Persatuan Mahasiswa/i HASOME dan Membangun Sinergi dalam Tindakan Nyata, serta Mewujudkan IMAPA yang Lebih Aktif, Terarah, Progresif, dan Bermartabat.”
Dalam sambutannya, Riko Rikson Iba menyoroti dua hal utama dari tema tersebut, yakni persatuan dan keaktifan mahasiswa. Menurutnya, kedua hal itu menjadi fondasi penting bagi IMAPA untuk membangun organisasi yang kuat serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan pendidikan dan dunia kerja.
Ia bahkan memberikan tantangan kepada 13 koordinator kampus agar mendorong kegiatan seminar di lingkungan kampus masing-masing. Kegiatan tersebut diharapkan menghadirkan pemateri dari dalam maupun luar kampus untuk memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan, dan mengembangkan kemampuan mahasiswa.
Riko menegaskan bahwa mahasiswa Pegunungan Arfak tidak boleh hanya hadir sebagai anggota organisasi, tetapi harus mengambil bagian aktif dalam setiap kegiatan. Melalui organisasi, mahasiswa dapat mengasah pola pikir, meningkatkan kemampuan intelektual, serta belajar memimpin, berkomunikasi, dan bekerja sama.
“Mahasiswa Arfak harus lebih aktif dalam organisasi untuk mengasah mindset dan IQ agar menjadi mahasiswa yang memiliki kemampuan serta keterampilan yang baik,” tegasnya dalam sambutan tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan zaman menuntut mahasiswa mengembangkan kemampuan secara menyeluruh. Kecerdasan intelektual atau intellectual quotient (IQ) saja tidak cukup tanpa keterampilan praktis dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain.
Menurut Riko, mahasiswa perlu menyeimbangkan kemampuan akademik dengan hard skill dan soft skill. Penguasaan pengetahuan harus berjalan beriringan dengan kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan, dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Ia berharap mahasiswa Pegunungan Arfak yang tergabung dalam IMAPA Kota Studi Manokwari dapat bersatu dan aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan badan pengurus. Partisipasi tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan diri sekaligus mempersiapkan mahasiswa agar mampu bersaing di berbagai bidang.
Riko juga mengingatkan bahwa mahasiswa Pegunungan Arfak perlu memanfaatkan kesempatan menempuh pendidikan formal maupun nonformal sebagai proses membangun kualitas diri. Setiap pengalaman dalam organisasi, ruang kuliah, seminar, dan kegiatan sosial dapat menjadi bekal untuk menghadapi persaingan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Harapan saya, mahasiswa Pegunungan Arfak di Kota Studi Manokwari harus bersatu dan aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan badan pengurus supaya kita mampu bersaing di mana pun kita berproses,” menjadi pesan utama Riko kepada mahasiswa.
Melalui RAKER periode 2026–2028, IMAPA diharapkan tidak hanya menghasilkan daftar program kerja, tetapi juga melahirkan gerakan organisasi yang nyata dan bermanfaat bagi mahasiswa. Persatuan perlu diterjemahkan menjadi kerja sama, sedangkan keaktifan harus dibuktikan melalui keterlibatan dan pelaksanaan program yang konsisten.
Bagi mahasiswa Pegunungan Arfak, organisasi merupakan ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan masa depan. Dengan memperkuat intelektualitas, keterampilan, serta solidaritas, IMAPA diharapkan mampu membentuk generasi muda yang percaya diri, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi masyarakat serta pembangunan Kabupaten Pegunungan Arfak.
Demianus Soroi

















